artikel 4

Jatuhnya pemerintahan Orde Baru pada pertengahan Mei 1998 memicu reformasi di semua sektor, termasuk budaya, yang antara lain terwujud dalam Keputusan Presiden No.6 / 2000 tanggal 17 Januari 2000 dan pencabutan Instruksi Presiden No.14 / 1967, mengakhiri 32 tahun diskriminasi terhadap budaya Tionghoa di Indonesia.

Selama periode penindasan, seniman etnis Tionghoa menjadi korban, dengan beberapa galeri dan karya seni Tiongkok di Jakarta dan Surakarta, Jawa Tengah, dibakar, rusak dan dijarah dalam kerusuhan Mei 1998.

Dalam kerusuhan berdarah ini, lukisan pelukis Li Shuji karya Lim Sioe Liong alias Paman Lim, seorang konglomerat dan kroni bisnis presiden Soeharto yang paling dinobatkan telah dihancurkan oleh massa.

Namun, pada akhir masa suram ini, ratusan seniman visual etnis Tionghoa kembali aktif dan mulai mengadakan pameran di mana-mana. Secara bertahap, mereka menegaskan kembali potensi seni visual mereka yang luas dan ciri khas gaya mereka.

Seni etnis Tionghoa di Indonesia umumnya memiliki tiga karakteristik. Pertama, tetap klasik dan tradisional Tionghoa dalam gaya dan bentuk, seperti yang ditunjukkan pada karya Siauw Tjhang dan Phang Guoxi. Kedua, ia mengasimilasi gaya Cina dan Barat atau Indonesia, seperti karya Lee Man Fong. Ketiga, ini tidak menunjukkan jejak keturunan orang Tionghoa, seperti karya Benny Setiawan, Chusin Setiadikara, FX Harsono dan Dadang Christanto.

Siauw dan Phang setia dengan gaya lukisan klasik Tionghoa. Karya-karya ini dibuat dengan cat air dan kertas sebagai mediumnya, dan dengan menerapkan teknik sikat basah atau sikat kering. Sikat runcing yang digunakannya disebut mopit. Dalam lukisan klasik Tionghoa, prasasti ditulis di satu sisi kanvas.

Pelukis akhir Lee berhasil menggabungkan elemen lukisan China dan Barat. Dalam banyak karyanya, nuansa Indonesia juga samar-samar diberikan. Dia membawa hidup ke sketsa dengan pensil, pena atau sikat, dan membuat gambar serta lukisan pastel, cat air dan minyak.